Awal April 2026 membawa wacana baru: pemerintah mendorong penerapan Work from Home (WFH) satu hari dalam seminggu sebagai salah satu langkah untuk menekan konsumsi BBM. Tujuannya sederhana—mengurangi mobilitas harian pekerja dan beban energi nasional.
Bagi sebagian perusahaan, respons pertama mungkin adalah kekhawatiran. Apakah produktivitas akan terganggu? Apakah koordinasi tim akan semakin sulit?
Namun jika dipikirkan lebih jauh, kebijakan ini sebenarnya bukan hanya soal energi. Ini juga mengingatkan kita pada satu hal: cara kita bekerja memang sedang berubah.
Beberapa tahun terakhir sudah memberi banyak pelajaran tentang fleksibilitas kerja. Sebagian organisasi berhasil menyesuaikan diri, sementara sebagian lainnya masih mencoba menemukan ritme yang tepat. Wacana WFH satu hari ini seperti “pengingat” bahwa model kerja tradisional; datang ke kantor setiap hari tidak lagi selalu menjadi satu-satunya cara.
Tentu saja, implementasinya tidak selalu sederhana. Tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah. Beberapa sektor tetap membutuhkan kehadiran fisik. Namun bagi banyak fungsi kerja lainnya, fleksibilitas sebenarnya bukan hal yang mustahil.
Yang sering menjadi tantangan justru bukan lokasi kerjanya, tetapi cara kerja timnya.
Ketika WFH mulai diterapkan, beberapa hal biasanya muncul:
- Komunikasi yang terasa lebih lambat
- Koordinasi lintas tim yang sedikit lebih rumit
- Kekhawatiran soal disiplin atau produktivitas
Namun pengalaman banyak organisasi menunjukkan bahwa solusi sering kali bukan dengan membatasi fleksibilitas, melainkan memperbaiki sistem kerja.
Beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dipikirkan perusahaan:
- Tetapkan aturan yang jelas. Siapa yang bisa WFH, kapan, dan bagaimana koordinasinya.
- Fokus pada hasil. Produktivitas lebih mudah diukur lewat output daripada jam duduk di kantor.
- Pastikan komunikasi tetap hidup. Meeting singkat, check-in rutin, atau collaboration tools sering membuat perbedaan besar.
Pada akhirnya, kebijakan seperti ini bukan hanya tentang menghemat BBM. Ini juga tentang belajar menyesuaikan cara kerja dengan realitas yang terus berubah.
Bagi perusahaan dan tim HR, momen seperti ini sering menjadi kesempatan untuk melihat ulang bagaimana organisasi bekerja, dan bagaimana membuatnya lebih efektif sekaligus lebih manusiawi.
Di DNE Talent, kami sering melihat bahwa perubahan kebijakan atau dinamika kerja seperti ini justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat strategi people management: mulai dari desain kerja yang lebih adaptif, pengembangan kepemimpinan, hingga menjaga keterhubungan tim di tengah perubahan.
Karena pada akhirnya, bukan hanya tempat kita bekerja yang penting—tetapi bagaimana orang-orang di dalamnya tetap bisa berkembang bersama.
