logo-black
resignation trend

Fenomena Resign Pasca Lebaran: Bagaimana Perusahaan Menyikapinya?

Setiap tahun, beberapa minggu setelah Eid al-Fitr, banyak perusahaan mengalami pola yang sama.

Kantor kembali ramai setelah libur panjang, inbox mulai terisi lagi, proyek berjalan seperti biasa. Tapi lalu satu per satu email masuk dengan judul yang hampir serupa.

Subject: Resignation Letter.

Bagi banyak perusahaan di Indonesia, resign setelah Lebaran sebenarnya bukan hal baru. Tetapi tetap saja, momen ini sering membuat tim harus cepat beradaptasi kembali.

Lebaran terasa seperti garis penutup sebuah fase. Banyak karyawan memilih menunggu hingga menerima THR atau menyelesaikan satu siklus kerja sebelum akhirnya memutuskan pindah. Setelah itu, sebagian orang merasa lebih siap memulai babak baru dalam karier mereka.

Di Balik Fenomena Ini, Ada Hal yang Lebih Penting

Pada akhirnya, fenomena resign setelah Lebaran sebenarnya bukan sekadar soal orang yang pergi. Tapi lebih sering berkaitan dengan bagaimana karyawan memaknai perjalanan karier mereka.

Bagi perusahaan yang ingin bertumbuh dalam jangka panjang, momen seperti ini bisa menjadi kesempatan untuk bertanya:

  • Apakah orang-orang di dalam organisasi merasa berkembang?
  • Apakah mereka melihat masa depan di sini?
  • Apakah perusahaan cukup sering berdialog tentang perjalanan karier mereka?

Kadang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Dan inilah yang membuat organisasi menjadi lebih kuat.

Menyikapi Fenomena Ini dengan Pendekatan yang Lebih Strategis

Daripada sekadar bereaksi ketika resign terjadi, banyak organisasi mulai mengambil pendekatan yang lebih proaktif. Misalnya dengan:

  • memperkuat career conversation antara leader dan tim
  • melakukan employee engagement review secara berkala
  • membangun succession planning untuk posisi penting
  • atau mengevaluasi sistem talent development

Pendekatan seperti ini membantu perusahaan tidak hanya mengelola turnover, tetapi juga memahami perjalanan karier orang-orang di dalamnya.

Ketika Organisasi Membutuhkan Perspektif dari Luar

Dalam beberapa situasi, perusahaan kadang membutuhkan perspektif yang lebih objektif untuk melihat dinamika di dalam tim. Mulai dari:

  • memahami pola turnover
  • mengevaluasi strategi pengembangan talent
  • hingga merancang sistem HR yang lebih berkelanjutan

Di sinilah peran partner HR sering menjadi penting.

DNE Talent sering membantu organisasi melihat kembali dinamika tim mereka dari sudut pandang yang lebih strategis; mulai dari talent strategy, engagement insight, hingga penguatan sistem pengembangan karyawan.

Karena pada akhirnya, membangun organisasi yang sehat bukan hanya tentang mengisi posisi yang kosong, tetapi tentang menciptakan tempat kerja di mana orang ingin bertumbuh dan bertahan.

Dan jika perusahaan Anda sedang menghadapi dinamika serupa setelah Lebaran, mungkin ini saat yang tepat untuk melihatnya sebagai awal dari percakapan yang lebih besar tentang masa depan organisasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top