logo-black
i love Monday

I LOVE MONDAY

Ingatkah kapan terakhir kali, kita mengatakan: “I love Monday?” Ya, tentu banyak di antara kita merasakan betapa senin pagi, saat kita harus memulai kembali minggu untuk bekerja, menjadi masa yang paling ‘berat’. Bahkan, pikiran bahwa senin harus dihadapi saja seringkali sudah dapat merusak kebahagiaan kita di hari minggu, ya kan? Seolah weekend yang dilalui untuk istirahat, refreshing dan me-‘recharge’ energi untuk kembali aktif bekerja, belum cukup. Dan, ini berulang terus dari waktu ke waktu. Pernahkah kita betul-betul memikirkan hal ini? Apakah benar bekerja begitu menjadi beban, dan tidak bisa kita rasakan memberi kepuasan, dan kebahagiaan?

Ya, kita tentu sadar setiap orang memiliki motivasi, nilai dan pandangan yang berbeda-beda tentang bekerja dan pekerjaan. Kita kerap bergurau, kurang semangat bekerja karena gaji yang kita terima kurang besar. Padahal, kita tahu bahwa berbagai riset telah membuktikan bahwa uang bukanlah faktor terpenting yang memotivasi individu untuk bersemangat dan berprestasi. Tokoh psikologi, Abraham Maslow, menggambarkan adanya hirarki atau piramida kebutuhan, mulai dari memenuhi kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan), pemenuhan kebutuhan psikologis, seperti gengsi, rasa diakui dan diterima, sampai dengan aktualisasi diri. Tokoh lain, seperti Herzberg, melihat adanya 2 faktor yang berperan dalam memotivasi individu dalam bekerja. Pertama adalah hygiene factor sebagai prasyarat untuk individu merasa “happy”, seperti gaji, keamanan kerja, supervisi, adanya SOP. Dan, kedua: “Motivator factor”, yang menentukan rasa komitmen, kepuasan kerja, yaitu di antaranya: tanggung jawab, tantangan, rasa penghargaan, rasa berprestasi. Sementara, pakar di ‘jaman now’ yang meneliti para millenials, tidak hanya membahas mengingatkan untuk mencapai happiness atau kepuasan kerja, tapi melihat pentingnya pekerjaan yang bermakna (meaningful) untuk memenuhi nilai-nilai individu.

Bekerja tidak sederhana kelihatannya. Tentu saja bekerja melelahkan bila kita hanya sekedar ‘datang-kerja-pulang’. Namun, bila kita benar-benar menghayati, bekerja memberi kesempatan pada kita untuk membangun pengetahuan, belajar dari kesalahan, belajar memahami sudut pandang orang lain, meningkatkan kepakaran, membangun relasi, menciptakan nilai tambah, memberi masukan untuk pengembangan orang lain, juga melatih kedewasaan. Apakah kita baru masuk dunia kerja, atau sudah makan asam garam, setiap hari di pekerjaan adalah perjuangan, ya kan? Itu sebabnya penting bagi kita untuk senantiasa mengevaluasi apa yang kita lakukan: Sejauh mana kita menambah kompetensi? Apakah kita terdorong untuk berkontribusi dan memberi nilai tambah? Jenis pekerjaan apa yang sesuai dengan nilai-nilai dan talenta kita? Apakah kita terbuka untuk mendapatkan masukan dan coaching?

Always believe something wonderful is about to happen”. Bila setiap senin kita membawa semangat ini ke tempat kerja, tentu di akhir hari kita akan berkata, “Yes, I love Monday” 🙂

 

Penulis: PP, Praktisi HR dan Learning

 

Photo by rawpixel.com from Pexels

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top